//
you're reading...
Uncategorized

METODE RISET PERTEMUAN KE IV

Tugas Sebelumnya: Mengerjakan Jurnal sendiri di mulai dari Bab I Pendahuluan. Sekarang saya akan Melanjutkanya pada Bab II Landasan Teori Sebelum membaca Bab II Landasan Teori yang di buat saya,pada sebelumnya pun saya membuat tema mengenai batu bara, tapi sudah saya ganti dengan tema yang baru dari awal hingga BAB II

Berikut Jurnal Ilmiah  yang telah saya buat.

Jurnal Ilmiah

Tema                        : Strategi Mencapai  Kepuasan  Pelanggan Terhadap Suatu Bisnis Café Resto “Ngopi Doeloe” Bandung.

 Judul                       : Terhadap Suatu Bisnis Café Resto “Ngopi Doeloe” Bandung

 Nama pengarang : Nazar Akbar

 Tahun                      : 2011

BAB II

LANDASAN TEORI

Teori dan Konsep Dasar

Budaya mium kopi di Indonesia sudah berkembang sejak lama,yaitu sejak pertama kali diberlakukannya tanam paksa oleh pemerintah belanda. Mulanya minum kopi merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Namun, seiring perkembangannya masyarakat Indonesia pun mulai gemar meminum kopi, hanya saja caranya yang berbeda dengan masyarakat Eropa. Budaya minum kopi di Indonesia dilakukan oleh masyarakat dengan tujuan-tujuan tertentu, seperti menjaga tubuh agar tidak mengantuk saat menyetir malam atau ronda malam. Minum kopi pun biasanya hanya dilakukan oleh kelompok orang-orang dewasa hingga usia lanjut dan didominasi oleh pria.

Sejak 15 tahun yang lalu, di Indonesia minum kopi biasanya dilakukan di warung-warung kopi pinggir jalan atau dilakukan di restoran jika ingin terlihat lebih eksklusif. Memasuki awal tahun 1990-an, seiring dengan masuknya coffee shop atau kedai kopi khusus. Coffee shop atau kedai kopi ini menawarkan berbagai macam produk kopi dengan tampilan yang eksklusif namun dengan pendekatan yang lebih merakyat. Kehadiran kedai kopi seperti Starbuck coffee di Indonesia pada 20 Mei 2002, mengubah gaya hidup masyarakat Indonesia dalam meminum kopi. Meminum kopi tidak lagi menjadi dominasi orang dewasa, tetapi juga anak muda baik yang berjenis kelamin pria ataupun wanita.

Dulu kedai kopi identik dengan tempat yang kurang nyaman, suasana yang menonton, dan sangat sederhana. Kini kedai kopi identik dengan tempat yang nyaman, suasana yang cozy, interior yang bagus, fasilitas yang lengkap seperti lounge, café, bar, AC (Air Conditioner), bahkan Wi-Fi. Sehingga tidak aneh apabila saat ini masyarakat merasa nyaman untuk berlama-lama di kedai kopi.

Dengan berbagai sarana dan prasarana yang ditawarkan oleh kedai kopi saat ini, masyarakat menjadikan kedai kopi sebagai tempat yang nyaman untuk melakukan berbagai aktivitas seperti tempat untuk bertemu dengan sahabat, teman lama, keluarga, ataupun kolega bisnis. Tidak jarang konsumen kedai kopi datang untuk mengerjakan tugas kuliah, tugas kantor, atau sekedar memperoleh informasi terbaru dengan memanfaatkan fasilitas jaringan Wi-Fi yang disediakan oleh kedai kopi tersebut, sambil mencicipi berbagai jenis minuman kopi dan makanan yang ditawarkan. Datang ke kedai kopi dapat dianalogikan seperti peribahasa “Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui”, yang berarti datang dengan tujuan tertentu (berkumpul dengan sahabat, teman lama, keluarga, atau kolega bisnis; mengerjakan pekerjaan; dan lain-lain), sambil menikmati berbagai jenis minuman kopi dan makanan, serta memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh kedai kopi tersebut.

Ketatnay persaingan bisnis di bidang industry produk dan jasa ini membuat pelaku bisnis kedai kopi harus mampu menciptakan sesuatu yang berbeda dengan kedai kopi lain yang sejenis. Kualitas produk yang ditawarkan tidak lagi menjadi standar suatu usaha karena hamper seluruh pelaku bisnis dapat menyediakan produk berkualitas tinggi. Satu-satunya elemen yang sulit ditiru adalah merek. Seperti pendapat Stephen King (Mahendra,2007) seorang CEO WPP Group, London, menyebutkan bahwa “produk adalah barang yang dihasilkan oleh pabri, sementara merek adalah sesuatu yang dicari pembeli. Produk mudah ditiru, sementara merek memiliki keunikan dan nilai tambah yang signifikan. Produk cepat using, sementara merek bertahan sepanjang jaman”.

Merek sebagai elemen yang penting dalam sebuah usaha harus dapat membentuk citra yang baik di benak konsumen. Pembentukan citra yang baik di benak konsumen dapat menjadi kekuatan bagi pelaku bisnis kedai kopi dalam persaingan menjaring calon konsumen potensial dan mempertahankan pelanggan yang ada. Oleh sebab itu, pelaku bisnis kedai kopi harus mampu menciptakan citra merek yang positif agar konsumen tidak beralih ke kedai kopi yang lain.

Schiffman dan Kanuk (2004:141) menyebutkan bahwa “A positive brand image is associated with consumer loyalty, consumer beliefs about positive brand value, and the willingness to search for the brand”, yang berarti citra merek yang positif berasosiasi denga loyalitas konsumen, kepercayaan konsumen dengan nilai positif terhadap merek, dan keinginan untuk mencari merek tersebut, sehingga dapat disimpulkan citra merek yang positif akan membantu konsumen untuk menjadi loyal terhadap barang dan jasa yang dibeli.

   Pembentukan citra merek positif yang terjadi dalam beak konsumen adaah proses mengaitkan asosiasi merek yang merupakan informasi-informasi yang berhubungan dengan segala sesuatu mengenai merek dan pemahaman mengenai merek tersebut. Secara sederhana, citra merek adalah sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk di benak konsumen. Keller (2008:56) menyebutkan bahwa factor pembentuk citra merek adalah kekuatan asosiasi merek, keunggulan asosiasi merek, dan keunikan asosiasi merek. Kekuatan asosiasi merek merupakan kedalaman berpikir konsumen mengenai informasi produk yang dihubungkan dengan pengetahuan terhadap merek. Keunggulan asosiasi merek merupakan keyakinan terhadap manfaat dan atribut suatu merek sehingga dapat menciptakan sikap yang positif terhadap merek. Sedangkan, keunikan asosiasi merekmerupakan kemampuan untuk membedakan sebuah merek diantara merek-merek yang lainnya.

Bandung sebagai salah satu symbol wisata kuliner, tidak ketinggalan dalam perkembangan bisnis kedai kopi. Sejak tahun 2006 di bandung mulai banyak bermunculan kedai kopi local yang sejenis dengan kedai kopi asing seperti Starbucks Coffee, Gloria jean’s Coffee, dan The Coffee Bean and Tea Leaf. Kedai kopi ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan budaya minum kopi dengan sarana dan prasarana yang sangat memberikan kenyamanan bagi konsumennya, seperti kemudahan akses internet. Beberapa kedai kopi di Bandung yang berkembang pesat, memiliki fasilitas yang lengkap, serta memiliki minimal dan gerai di tempat-tempat strategis sejak tahun 2006 adalah Café Excelco, 99ers Coffee, dan Kafe “Ngopi Doeloe”.

Riset Terdahulu

Kafe “Ngopi Doeloe” merupakan salah satu dari sekian banyak kedai kopi di Bandung yangmampu bersaing dengan kedai-kedai kopi asing, terlihat dari jumlah pengunjung hamper mencapai 500 orang perhari sejak pertama kali dibuka pada April 2006 (Sumber : Manajemen Kafe “Ngopi Doeloe”). Saat ini, Kafe “Ngopi Doeloe” memiliki lima (5) gerai yang tersebar di tempat-tempat strategis, yaitu di Jalan Hasanudin No.7, Jalan Teuku Umar No. 5, Jalan Purnawarman No. 24-26, Jalan Burangrang No. 27, dan jalan Ranggamalela No. 6-8. Dengan slogan “Low price, Comfort, dan High Class”, yang berarti bahwa harga yang murah, nyaman, dan berkelas.

Slogan yang diusung oleh Kafe “Ngopi Doeloe” dijadikan asosiasi oleh masyarakat dalam menggambarkan mengenai Kafe “Ngopi Doeloe”/ slogan Kafe “Ngopi Doeloe”, yaitu “Low Price, Comfort, dan High Class” memang sudah sesuai dalam penerapannya. Menu-menu yang ditawarkan memiliki harga yang murah dan lebih lengkap dibandingkan dengan kedai kopi lain yangsejenis, serta mengadirkan Susana yang nyaman dan berkelas. Kesesuaian antara slogan yang diusung dengan pengalaman yang dirasakan oleh konsumen, membantu konsumen dalam membentuk citra yang positif terhadap Kafe “Ngopi Doeloe”. Pada akhirnya, secara sadar ataupun tidak sadar, citra merek yang positif telah tertanam di benak konsumen, akan membuat konsumen tidak mudah beralih ke kedai kopi pesaing dan menciptakan loyalitas pelanggan di kemudian hari.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Hubungan Citra Merek dengan Loyalitas Pelanggan pada Kafe “Ngopi Doeloe” Bandung”.

Buat harganya, untuk ukuran ngopi sih cukup murah. Berkisar antara 8.000 – 20.000. Jenis penyajian kopinya juga cukup beragam. Mulai dari hangat hingga dingin, frozen, dan beberapa campuran dengan buah juga ada. Selain kopi di sini juga ada teh, coklat, soda dan jus. Jadi variasi menunya cukup banyak. Untuk menu makanannyapun beragam. Mulai yang mau ngemil sampai makan berat, dari pasta, pizza, roti, nasi dan martabakpun ada.

Pengembangan Hipotesis

Berdasarkan tinjauan dari riset terdahulu, Dapat di kemukakan Hipotesis berikut ini.

  1. para pesaing “Ngopi Doeloe” menawarkan produk yang hampir serupa jenisnya,tapi bisa membuat kreasi makanan dan minuman yg lebih enak dan menarik serta lebih murah
  2. kebutuhan yang tidak terlepaskan dalam kehidupan banyak orang terutama para pencinta kopi
  3. Atribut dengan tingkat kinerja terendah dapat dilihat pada atribut dan fasilitas yang nyaman seperti AC (Air Conditioner) dan Wi-fi
  4. sudah terkenal di kalangan masyarakat luas

Nama     : Nazar Akbar

kelas       : 3ea13

Npm        : 12209996


>>Tugas ini diberikan kepada : Bpk. Prihantoro

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: